9 November 2010

MENGUAK TABIR PENJUALAN GADIS DI BAWAH UMUR

INDONESIA PLASA


Terbongkarnya jaringan penjualan gadis di bawah umur untuk pemuas nafsu pria hidung belang di Semarang sungguh mengejutkan kita. Bagaimana modus operandi jaringan tersebut? Berikut laporannya.


KALAU saja seorang ibu muda yang kehilangan anak gadisnya, Mawar (15), tidak mengadukan ke Polsek Tugu, bisa jadi jaringan penjualan gadis di bawah umur tersebut belum terungkap.


Dari investigasi Suara Merdeka, jaringan mereka ternyata begitu rapi. Betapa tidak. Untuk "memakai" seorang gadis tersebut bukanlah persoalan mudah. Pemakai harus memiliki kelihaian dan pergaulan yang baik dengan si penyalur. Jika tidak, jangan harap bisa menikmati.


"Biasanya, tamu yang datang ke rumah atau sebelumnya menelepon," ujar Ny Ivon (44), seorang perantara yang tertangkap.


Warga Gisikdrono itu mengaku sudah lama menggeluti dunia "esek-esek". Sebelum itu, ketika lokalisasi Sunan Kuning (SK) masih resmi buka, dia menjadi salah satu penyalur di tempat itu.


Ia menyatakan, menyediakan pekerja seks komersial (PSK) yang rata-rata berumur lebih dari 20 tahun lebih mudah dibandingkan gadis di bawah umur. Sebab, pemesannya orang-orang tertentu yang tidak setiap saat bertemu.


"Kalau mencari PSK, biasanya orang cukup menyediakan uang Rp 100.000. Kurang dari itu juga bisa," katanya.


Namun, untuk pesanan khusus harus merogoh kocek sampai jutaan. "Ketika menjual Melati (bukan nama sebenarnya) saya mendapat Rp 1.500.000. Itu uang yang masuk ke saya. Nggak tahu kalau yang lain," katanya.


Selama menggeluti dunia tersebut, dia mengaku baru kali pertama ini menawarkan gadis di bawah umur kepada tamu. Awalnya, dia ditawari dua "daun muda" oleh Ny Sulistyowati, yang ternyata anaknya sendiri.


Mereka itu Bunga (13) dan Melati (14), bukan nama sebenarnya. "Awalnya saya pesimistis, apakah ada tamu yang mencari gadis seumur mereka. Karena teman dekat, saya berupaya mencarikan tamu untuk mereka. Ny Sulistyowati saat itu butuh uang untuk membayar kontrak rumah," ujar Ny Ivon.


Ketika berjalan-jalan di sebuah mal di kawasan Simpanglima, dia bertemu seorang pria setengah baya yang minta dicarikan "daun muda". Bahkan, kalau bisa yang masih di bawah umur.


Tanpa pikir panjang Ny Ivon menyanggupi permintaan tersebut. Transaksi untuk menentukan tarif, tempat, dan waktu pun dibuat.


Dia mengatakan, pemesan meminta agar "pesanan" diantar ke kamar hotel berbintang di kawasan Candi Lama. Kejadian itu sekitar dua bulan lalu. "Saya antar Melati ke hotel dengan taksi," ujar dia.


Setelah Melati dipertemukan dengan pemesan, dia tidak langsung pulang. Soalnya, Melati termasuk "pesanan" antik yang pernah dimilikinya. Apalagi, dia masih kecil dan belum berani pulang sendirian ke rumah orang tuanya.


Ny Sulistyowati kepada petugas mengatakan, di rumah Melati memberikan uang Rp 5 juta dari tamunya. Sebagian uang diberikan kepada Ny Ivon. Selebihnya untuk membayar kontrak rumah.


Pria itu dua kali "memakai" Melati. "Yang terakhir, bapak itu hanya ingin bertemu, setelah itu memberikan uang Rp 350.000. Di kamar saya hanya ngobrol sebentar. Mungkin bapak itu kasihan dengan saya," kata petugas menirukan ucapan Melati.

Mendapat keuntungan besar, Ny Ivon mencari mangsa lain. Kebetulan dia punya kenalan di Jakarta. "Saya menawarkan Bunga kepada dia (kenalannya-Red). Selang beberapa hari, dia menelepon agar Melati dibawa ke Jakarta. Saya dan Ny Sulis (sulistyowati-Red) mengantar sampai ke hotel di Jakarta," kata Ny Ivon.

Keduanya menunggu sampai selesai. "Tidak lama dan saya menungguinya. Sehari sudah bisa langsung pulang. Saya dapat bagian Rp 2 juta," kata dia.

Tidak semua tamu mencari gadis di bawah umur. Dari sejumlah pria hidung belang yang menghubungi Ny Sulistyowati dan Ny Ivon, masih banyak yang mencari gadis seusia anak SMU. Karena itu, keduanya berupaya mencari "mangsa" dengan cara blusukan di sekolah-sekolah.


Gadis yang memungkinkan untuk "dijual", didekati. Agar tidak tersinggung, si gadis ditawari pekerjaan dengan upah tinggi tanpa harus meninggalkan bangku sekolah. Bila dia menyanggupi, Ny Sulistyowati akan mencarikan pria yang mau diajak kencan dengannya.

Cempaka (17), bukan nama sebenarnya, siswi sebuah SMU di Semarang yang kali pertama menjadi anak asuhnya. Setelah kenal dengan Ny Sulistyowati, hampir setiap hari dia datang ke rumah wanita itu di Jalan Candi Permata perumahan Pasadena.

Cempaka kepada petugas mengatakan, saat kali pertama kencan dia dibayar Rp 400.000, tapi hanya Rp 150.000 yang diberikan kepadanya. Selebihnya diambil oleh Ny Sulistyowati.

Dia terkadang mengajak teman-temannya. Ada yang mau diajak "bekerja". Dari kebiasaan itu, Ny Sulistyowati akhirnya punya beberapa "anak asuh". Semua masih tercatat sebagai siswi SMU.

Kasus Semarang Hanya Sebagian Kecil

KENDATI sebuah jaringan penjualan dan perdagangan anak di bawah umur untuk tujuan seksual di Semarang telah terbongkar, diyakini itu hanyalah salah satu yang bisa terungkap. Kasus tersebut ibarat fenomena gunung es. Yang terungkap hanyalah sebagian kecil, sementara yang masih terpendam dalam-dalam masih menggumpal.

"Apa yang terlihat dan terungkap di permukaan hanyalah segelintir, belum bisa mencerminkan keadaan yang sebenarnya," tutur Koordinator Eksekutif Pusat Edukasi Studi Advokasi Anak Indonesia (Perisai) Fatah Muria.

Muncul indikasi kuat Semarang dan Jateng sebagai salah satu daerah pemasok dan transit bagi sindikat-sindikat perdagangan perempuan terutama anak-anak untuk tujuan seksual. Meski hal itu belum ada penelitian dan analisis yang komprehensif.
Perisai tidak hendak berlebihan. Simak saja hasil identifikasi Yayasan Setara. Mereka mengemukakan, 10 anak jalanan perempuan diperdagangkan untuk tujuan seksual ke Kepulauan Riau tahun 2000. Mereka ditampung dulu di sebuah tempat oleh broker.

Menurut pengakuan korban yang berusia 16 tahun kepada Setara, di sana bertemu dengan banyak anak-anak gadis sejenis yang diperdagangkan dengan tujuan serupa. Awal 2001 Perisai, Setara, dan PKPA Medan pernah menangani satu kasus anak yang berasal dari Brebes yang menjadi korban perdagangan anak. Dia dijerumuskan ke dalam prostitusi di Bandar Baru, Medan. Korban akhirnya lari dari lokalisasi setelah mengidap siphilis stadium IV. Kerja sama ketiga NGO itu berhasil memulangkan korban ke keluarga.

Di Indonesia, kasus tersebut ditengarai telah lama terjadi. Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan mengutip data dari Komisi Ekonomi dan Sosial PBB (ESCAP), memperkirakan sekitar 1 juta orang (20%) dari lima juta pekerja migran asal Indonesia menjadi korban sindikat perdagangan anak dan perempuan muda.

Dan Indonesia duduk di peringkat ketiga dengan kategori tidak serius dalam memerangi kejahatan tersebut. Pada umumnya korban ditujukan untuk pekerja seks yang dilempar ke Hong Kong, Singapura, Taiwan, Malaysia, Brunei Darussalam, negara-negara Timur Tengah, Australia, Korea, dan Jepang.

SAMIN (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia) menengarai jumlah kasus perdagangan anak itu akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Asumsinya krisis ekonomi masih terus berkelanjutan; tingkat prevalensi HIV/AIDS lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Sehingga menjadi surga bagi pedofilia (orang yang puas melakukan hubungan seks dengan anak-anak di bawah umur).


Juga karena lemahnya perangkat serta penegakan hukum yang mampu memberikan perlindungan maksimal bagi anak-anak dan perempuan atas segala tindakan kekerasan.
Kasus enam anak yang diperjualbelikan dan diperdagangkan di Semarang, persetujuan anak dianggap tidak diperlukan. Sebab, mereka dianggap masih belum matang. KUHP, sebagai dasar hukum pidana di Indonesia, mengatur dalam Pasal 297. Namun, hanya menyangkut hukuman bagi perdagangan perempuan dan anak laki-laki dan belum mengadopsi perdagangan untuk anak-anak perempuan yang diperdagangkan untuk tujuan seksual.

Pola perdagangan yang terungkap di Semarang masuk dalam kategori yang dijual oleh keluarga. Juga menggunakan bujuk rayu dengan upah yang tinggi dengan pekerjaan ringan. Ada pula yang menggunakan metode penculikan. Kasus ini pernah ditangani oleh ketiga NGO. Anak yang masih di terminal Pulo Gadung, Jakarta, tiba-tiba dipaksa untuk naik bus tujuan Medan. Tentu disertai dengan ancaman. Anak tersebut ditampung di lokalisasi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) sebelum dijerumuskan ke prostitusi.


"Dari keterangan pelaku, anak-anak dijerumuskan ke dalam perdagangan untuk tujuan seksual dengan memanfaatkan subordinasi (orang tua-anak) dan ketidakmatangan mental," ujar Fatah Muria. Mereka, lanjutnya, mudah dirayu dengan iming-iming uang cukup melimpah.

Sejuta anak Indonesia telah disebut sebagai korban pedagangan ke negara lain. Pantas diduga sejuta anak lainnya menjadi korban perdagangan antarwilayah di Indonesia. Upaya penanganan dari pemerintah belum menunjukkan langkah keseriusan. Sebuah keprihatinan bersama di tengah lajunya upaya mencerdaskan bangsa.

7 komentar:

  1. Jika punya anak perempuan diajarkan untuk menutup aurot sejak kecil. Memahamkan tentang nilai-nilai agama dan nilai adat Timur (Indonesia). Jika dewasa memberi kepercyaan bukan kebebasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. VIMAX PEMBESAR PENIS CANADA

      Bikin Penis Besar, Panjang, Kuat, Keras, Dengan Hasil Permanent

      isi 30 cpsl Untuk 1Bulan Hanya.500.000;

      Promo 3 Botol Hanya.1.000.000;



      ANEKA OBAT KUAT EREKSI DAN T.LAMA 



       PERANGSANG WANITA SPONTAN 

      ( Cair / Tablet / Serbuk / Cream) 5Menit Reaksi Patent.
      Sangat Cocok Untuk Wanita Monopouse/ Kurang Gairah.



       ANEKA COSMETIK BERKWALITAS TERBAIK 

      ( Pelangsing Badan, Pemutih Muka & Badan, Flek Hitam,
      Jerawat Membandel, Gemuk Badan, Cream Payudara,
      Obat Mata Min/ Plus, Peninggi Badan, Cream Selulit,
      Pemutih Gigi, Pembersih Selangkangan/ Ketiak,
      Pemerah Bibir, Penghilang Bekas Luka, Perapet Veggy,



       ALAT BANTU SEXSUAL PRIA WANITA DEWASA 



       087833979288-082221218228 BBM.24CEE3AE MR.YUDI 

       Cerita Hot Dan Vidio Porn Indonesia Artis ModelAbg Di Perkosa Di sekolahan Rame-Rame

      Hapus
  2. Kita lihat saja kinerja aparat kita yang mulai memuakkan.

    BalasHapus
  3. indonesia adalah negara yang baling penjualan anak lanjutkan aja.

    BalasHapus
  4. hukum jaman semarang.

    sing pinter sing berkuasa.


    my blog:
    best-advertising77.blogspot.com

    BalasHapus
  5. haduh.. susahnya cari duit ya.. kasihan yang belom mudeng tentang harga diri..

    visit me!!! http://www.vcbux.com/?r=792717222

    BalasHapus

INDONESIA PLASA