29 Januari 2011

KECANDUAN SEKS SERTA BAHAYA NYA LENGKAP

INDONESIA PLASA





Problem seks sangat beragam. Gangguan bisa dimulai dari hasrat yang tidak menyala, sakit saat berhubungan intim, hingga gangguan ereksi. Banyak di antara gangguan itu dapat diatasi menggunakan obat dan terapi. Namun, salah satu gangguan seks yang tergolong sulit dihadapi adalah kecanduan.

Kecanduan seks (sexual addiction) sering dianggap bukan merupakan masalah bagi banyak orang. Padahal, bagi penderita dan pasangan hidupnya, gangguan itu bisa sangat merusak. Tidak hanya merusak kehidupan pribadi penderitanya, tetapi juga lingkungan sosial, keluarga, dan terutama pasangan hidup penderita (baca boks: Bentuk Kecanduan dan Akibatnya).

Menurut para ahli, kecanduan seksual adalah kegiatan seks yang sesuai ukuran kelaziman tergolong di luar kendali. Pengidap kecanduan seks merasa terdorong untuk mendapatkan dan membenamkan diri dalam kegiatan seksual, meski menyadari semua risiko yang mungkin dihadapi.

Seks bisa menimbulkan kecanduan sebagaimana alkohol dan obat-obat terlarang. Saat berkegiatan seks, tubuh melepaskan senyawa kimia yang membuat tubuh kita menjadi nyaman. Sejumlah orang menjadi kecanduan untuk mengeluarkan senyawa kimia ini dan menjadi terobsesi untuk mendapatkan lagi dan lagi dan lagi, rasa nyaman yang ditimbulkan.

Sebagaimana kecanduan terhadap yang lainnya, tubuh semakin terbiasa dengan terlepasnya senyawa kimia tersebut. Tubuh pecandu butuh jumlah yang semakin banyak, semakin banyak, dan semakin banyak, yang artinya merasa butuh ngeseks terus, tak pernah ada puasnya.

Di antara terpenuhinya kebutuhan seksual dan senyawa kimia yang tinggi, muncullah keterpurukan. Hal ini sering dikenali dengan adanya perasaan malu, menyesal, menderita, memelas, dan gelisah. Pengidap kecanduan bisa merasa terpencil, terisolasi, dan tak berdaya untuk mengubah perilakunya. Nah, seiring dengan terus berputarnya lingkaran tak berujung itu, pengidap kecanduan terus berupaya mendapatkan seks sebagai upaya untuk melarikan diri dari perasaan yang membelenggu.

Lebih dari 6 persen
Menurut perkiraan konservatif, 3 hingga 6 persen dari populasi masyarakat mengidap kecanduan seks dan 20 persen di antaranya adalah wanita. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Namun, angka tiga hingga enam persen itu diperkirakan terlalu rendah dari jumlah pengidap sesungguhnya.

Mengingat kecanduan seks lazim disertai dengan perasaan malu dan tercela, menurut situs milik Dr Patrick Carnes, seorang konsultan dan pakar kecanduan seks terkemuka, www.sexhelp.com, pengidap jadi sering menemukan kesulitan untuk mendapatkan pertolongan. Karena alasan ini pula, tipe profil penderita kecanduan seks sulit didapatkan.

Sejak dibukanya internet dengan aneka jasa layanan seksual yang murah tanpa harus membuka identitas diri peminatnya, para ahli hanya bisa tahu bahwa pengidap kecanduan seks itu meningkat tajam tanpa tahu persis jati diri mereka. Dengan terbatasnya layanan pertolongan bagi penderita, para ahli berpendapat jumlah penderita kecanduan seks itu akan terus meningkat.

Lalu, seperti apakah tanda-tanda dari mereka yang menderita kecanduan seks? Dr Patrick Carnes mengisyaratkan adanya 10 kemungkinan tanda yang perlu diwaspadai:

1. Merasakan bahwa perilaku Anda tidak terkendali.
2. Sadar bisa muncul akibat yang parah bila Anda terus berlanjut dengan perilaku itu.
3. Merasa tak sanggup menghentikan perilaku Anda meski sadar akan akibatnya.
4. Tetap memburu kegiatan yang destruktif dan/atau berisiko tinggi itu.
5. Terus berharap akan menghentikan atau mengendalikan apa yang Anda lakukan dan bertindak aktif untuk membatasi kegiatan berbahaya yang Anda lakukan.
6. Menggunakan fantasi-fantasi seksual sebagai cara untuk mengatasi perasaan atau situasi sulit.
7. Butuh ngeseks terus-menerus agar selalu merasa nikmat.
8. Menderita akibat perasaan yang terus bergejolak di seputar kegiatan seks.
9. Menghabiskan banyak waktu guna merencanakan, melakukan, atau menyesali dan melakukan lagi kegiatan seksual.
10. Mengabaikan kegiatan sosial, kegiatan kantoran, dan kegiatan rekreasional yang penting demi seks.

Perlu mengakui
Bila Anda melihat ada salah satu dari tanda-tanda di atas yang terdapat dalam perilaku Anda, langkah terpenting yang dapat dilakukan adalah mengakui bahwa kecanduan seksual adalah suatu problem yang nyata dan tidak bisa hilang begitu saja atau akan hilang dengan sendirinya. Anda harus memilih sikap bertanggung jawab secara pribadi demi pulihnya gangguan yang bisa jadi sedang Anda alami.

Umumnya pengidap gangguan seks memang merasa kesulitan untuk mengubah sendiri perilaku mereka. Namun, setidaknya sedikit demi sedikit Anda harus mampu meminimalisasi perilaku sebagaimana tergambar pada tanda-tanda di atas meski kadang siklus datangnya dorongan untuk mengulangi perbuatan terlalu kuat untuk dilawan. Seorang terapis profesional dapat membantu Anda untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi dan mendorong Anda mengambil langkah untuk berubah menuju ke gaya hidup seksual yang lebih sehat.

Sebaliknya, bila Anda menduga bahwa pasangan hidup Anda adalah penderita kecanduan seks, sudah seharusnya Anda membantu untuk mengubah perilaku tersebut. Sikap mental yang perlu Anda persiapkan untuk diri sendiri adalah, tak seorang pun akan sembuh dari kecanduan kecuali menerima bahwa mereka mengidap suatu gangguan dan ingin berubah. Karena itu, bantulah memperkuat tekad pasangan Anda yang kecanduan agar semakin kuat kemauannya untuk melakukan perubahan.

Memang repot, menyakitkan, dan membingungkan punya pasangan yang kecanduan seks. Kalau di masyarakat Barat, bahkan tersedia bantuan bagi mereka yang memiliki pasangan pecandu seks. Bantuan itu bisa bersifat pribadi maupun dalam bentuk kelompok pendamping (support group). Nah, meski di sini belum tersedia layanan seperti itu, Anda bisa ngintip-ngintip mencari wawasan, misalnya saja ke Sex Addicts Anonymous, situs internasional yang menyediakan informasi bantuan dari Inggris di www.saa-recovery.org atau di British Association of Sexual and Relationship Therapists, yang menawarkan direktori terapis seks pribadi di: www.basrt.org.uk.

Bentuk kecanduan dan akibatnya
Kecanduan seks dapat memperlihatkan berbagai bentuk, tetapi umumnya dikenali dari perilaku yang terasa di luar kendali. Perilaku ini mencakup:

- Menghabiskan banyak waktu untuk menikmati produk-produk pornografi
- Masturbasi tak terkendali
- Ekshibisionisme
- Voyeurisme
- Fetishes
- Seks berisiko tinggi
- Pelacuran
- Telepon seks dan ngeseks lewat internet
- Perselingkuhan
- Berhubungan seks dengan pasangan yang baru saat itu dikenal

Menurut Dr Carne, survei mengungkapkan akibat dari perilaku kecanduan seks, antara lain:

70 persen mengalami gangguan yang parah dengan pasangan hidupnya
40 persen kehilangan pasangan hidup
27 persen kehilangan peluang dalam karier
40 persen mengalami kehamilan yang tak diinginkan
72 persen terobsesi ingin bunuh diri
17 persen mencoba bunuh diri
68 persen terkena penyakit menular seksual.


Kecanduan Seks? Ah, Alasan untuk Selingkuh Saja!

Alasan kecanduan seks seringkali dijadikan alasan untuk menutupi keinginan selingkuh.

Dalam suatu kasus perselingkuhan yang lumayan "parah", bila sang pelaku bisa meyakinkan orang bahwa ia menderita kecanduan seks, maka pandangan terhadap dirinya bisa berubah drastis. Status pelaku bisa berbalik jadi korban. Tapi seberapa kredibilitas kelainan kecanduan seks itu? Jangan-jangan itu cuma alasan.

Memang ada alasan kuat untuk menduga bahwa orang bisa kecanduan secara fisik atau psikologis terhadap suatu zat tertentu, seperti pada narkoba. Tapi konsep bahwa seseorang bisa kecanduan pada suatu perilaku tertentu, seperti berjudi, juga diterima secara umum. Tapi kalau dipertajam lagi, apa bisa seseorang kecanduan seks?

Sejumlah pakar terapi yang menangani kasus kecanduan seks tentu membela keberadaan diagnosis itu, tapi sebagian kalangan profesional bidang kesehatan sebenarnya tidak sepenuhnya yakin. Salah satu faktanya adalah, sampai saat ini tidak ada suatu tes atau kriteria yang diakui secara universal untuk mendiagnosis adanya kecanduan seks.

"Kecanduan seks termasuk dalam diagnosis psikologi pop yang tak memiliki dukungan kuat ilmiah," tutur Scott Lilienfeld, Lektor Kepala Universitas Emory untuk bidang psikologi, yang juga merupakan salah satu penulis buku 50 Mitos Besar dalam Psikologi Populer. Alasannya adalah bahwa penjelasan untuk kecanduan seks hanya berputar-putar di tempat. Istilah kecanduan seks tidak menjelaskan perilaku itu, tapi hanyalah memberi label atau gambaran. "Waktu kita mendengar bahwa seseorang didiagnosis kecanduan seks, kita tak mendapat informasi yang baru. Kita cuma memberi label untuk apa yang sudah kita ketahui, yaitu bahwa orang itu kesulitan mengendalikan dorongan seksualnya."

Banyak pakar psikologi lainnya yang skeptis tentang kecanduan seks menyebut bahwa fenomena diagnosis itu sebagai "mempenyakitkan hal yang lazim", yaitu memberi kategori kelainan mental untuk suatu perilaku yang tak disetujui secara sosial. Akibatnya, sang penderita jadi kurang bertanggung jawab terhadap perilakunya.

Sebagai contoh perbandingan saja, Tiger Woods, yang baru saja menyampaikan permintaan maafnya secara publik atas perselingkuhannya, Jumat (19/2/2010), sebelumnya mengikuti rehabilitasi di klinik di Mississippi yang merawat berbagai kecanduan, termasuk kecanduan seks. Apakah pandangan publik bisa berubah kalau ia ternyata didiagnosis kecanduan seks?


7 TANDA

- Halle Berry dan Tea Leoni pasti pernah merasakan sulitnya mendampingi pasangan yang mengalami kecanduan seks. Halle pernah bertahan dalam pernikahannya dengan penyanyi Eric Bennet, sebelum akhirnya menyerah dan memilih bercerai. Sedangkan Tea Leoni juga tak sanggup lagi melihat hobi suaminya, David Duchovny, mem-browsing internet porn, dan memutuskan berpisah. Dua suami mereka hanyalah contoh dari beberapa selebriti yang mengaku menderita sex addict. Charlie Sheen bahkan mengaku sudah berhubungan seks dengan 5.000 wanita!

Ada perbedaan besar antara seseorang yang melakukan hubungan seksual karena berselingkuh, dan yang memang mengidap kecanduan seks. Seseorang yang kecanduan seks sebenarnya mengidap perilaku seksual obsessive-compulsive. Hal ini menyebabkan stres pada dirinya dan keluarganya, karena mereka tidak sanggup mengontrol perilaku individu ini. Pengidap kecanduan seks karena perilaku seksual yang menyimpang ini membutuhkan bantuan psikologis untuk menanganinya.

Kecanduan seks juga tak hanya dialami pria. Wanita pun bisa mengalaminya, meskipun jumlahnya tak begitu banyak (penyanyi Amy Winehouse adalah salah satunya). Wanita lebih cenderung mengalami kecanduan cinta, dimana mereka sangat membutuhkan perhatian dan dipuja. Sebagian dari wanita yang mengidap perilaku ini merasa mereka hanya dihargai karena tubuh mereka, oleh karena itu mereka menggunakan kemolekan tubuh untuk menarik perhatian atau mendapatkan cinta dari pria.

Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang mengalami kecanduan seks?

1. Tidak menikmati sesi bercinta yang normal
Seorang pria akan selalu komplain tentang kurangnya variasi dalam bercinta dengan pasangannya. Sesi bercinta yang lazim dilakukan rata-rata pasangan tidak membuatnya puas. Ia menginginkan gerakan-gerakan yang dilakukan bintang porno kelas hard core. Ia terpaku pada angka-angka, seperti berapa kali posisi seks yang pernah dilakukan, atau berapa kali ia ingin mencapai orgasme dalam semalam.

2. Menjalani dua kehidupan
Apakah Anda pernah meragukan apakah si dia memiliki hubungan dengan orang lain hanya untuk mendapatkan kesenangan seksual? Apakah Anda merasa ia tidak jujur terhadap Anda? Meskipun Anda sudah berulangkali mengajaknya berbicara, ia masih tak dapat mengontrol dirinya?

3. Terus-menerus mencari hal-hal seksual
Pria yang sering menonton film, majalah, atau bacaan porno, masih dapat dikatakan normal. Namun bila hal-hal tersebut menjadi satu-satunya perhatiannya, bahkan pada waktu atau tempat yang tidak memungkinkan, inilah yang perlu diwaspadai. Jika history pada browser internetnya hanya menampilkan situs-situs porno, dan inbox email-nya dipenuhi dengan undangan untuk bergabung situs-situs porno tersebut, lebih baik Anda hati-hati.

4. Hanya seks dalam pikirannya
Dalam dorongan seksualnya yang tak tertahankan, atau hubungan cintanya, ia mengabaikan tanggung jawab spiritual, profesional, maupun sosialnya. Bahkan ketakutan yang ekstrim akan penularan penyakit menular seksual (PMS) tidak membuatnya kesulitan dalam petualangan seksualnya.

5. Sering menjauhkan diri
Ketika ingin berhubungan seksual, ia begitu mendambakan sesi yang hebat. Namun usai bercinta dengan pasangannya, ia akan dilanda rasa bersalah karena telah terlibat secara fisik dengan wanita. Ia pun akan segera menjauhkan diri, karena khawatir dengan dorongan yang terus berulang, yang tak mampu diatasinya.

6. Tidak peduli akan terjegal masalah hukum
Pecandu seks akan mengambil risiko apa pun untuk menikmati kesenangan seksual. Namun, seperti saat kecanduan apa saja, semakin banyak yang didapatkan, semakin banyak ia membutuhkannya. Ia akan melakukan phone sex, melakukan hubungan dengan PSK, voyeurisme, atau eksibionisme. Seorang sex addict sadar bahwa tindakannya melanggar kesusilaan, namun dorongan untuk seks membuatnya mengabaikan kekhawatiran itu.

7. Makin lama makin sulit dikendalikan
Jika seorang wanita telah melihat sebagian ciri di atas, dan pria pasangannya ini terus dipenuhi perasaan bersalah, malu, bahkan menyesal, muncul keinginan untuk bunuh diri, sadarilah bahwa hal ini hanya disebabkan karena ia tidak dapat menghentikan dirinya melakukan sesuatu yang buruk. Tak hanya untuk dirinya, tetapi juga pasangannya.

Ketika sudah tertangkap basah, atau ketika kecanduannya membuat mereka tidak mungkin beraktivitas, seorang pecandu seks akan mulai mencari bantuan. Seringkali mereka harus masuk pusat rehabilitasi sehingga bisa keluar dari lingkungan dan kebiasaan normalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

INDONESIA PLASA