14 Desember 2010

Pemerintah Diharapkan Kembangkan Apotek Dunia

INDONESIA PLASA BY: TONI.S

Selasa, 14 Desember 2010 19:31 WIB
Bogor

Program Food Estate atau kawasan khusus usaha pertanian skala luas di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, diharapkan tidak hanya memproduksi tanaman pangan tetapi juga mengembangkan tanaman berkhasiat obat dan menjadikan Indonesia sebagai Apotek Dunia.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Arif Satria mengatakan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia, berjuta tanaman tumbuh dan berkembang, yang bila dikelola dengan optimal dapat memberikan manfaat yang besar.

"Pemerintah jangan hanya fokus pada industri pangan saja, tapi kembangkan juga industri tanaman berkhasiat agar kita menjadi apotek dunia," kata Arif di sela-sela seminar Food Estate yang digelar di IPB International Convention Center, Selasa.

Arif mengatakan di kawasan Merauke banyak tumbuhan berkhasiat sebagai pengobatan seperti kayu putih dan sarang semut.

Selain di Merauke, kata Arif, masih banyak tanaman lainnya yang terdapat di setiap provinsi di Indonesia, seperti gambir, jahe, pala dan cengkeh.

Menurut Arif, program food estate bisa menjadi salah satu opsi strategi dalam mengatasi permasalahan pangan.

Namun, bila hanya difokuskan untuk pengembangan tanaman pangan akan sangat mubazir, bila tidak dibarengi dengan pengembangan tanaman berkhasiat, mengingat kebutuhan pangan setiap tahun terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.

"Jika kita bisa mengembangkan dua-duanya, permasalahan pangan bisa teratasi dan Indonesia sebagai apotik dunia juga bisa terwujud," kata Arif.

Dalam seminar yang diselenggarakan oleh FEMA IPB bekerja sama dengan Kementerian Pertanian RI membahas tentang food estate dengan tema "Food Estate di Indonesia: mampukah mewujudkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan, berkedaulatan dan berkeadilan?"

Seminar tersebut memaparkan tentang program Food Estate yakni program pemerintah sebagai moda produksi terobosan yang dicoba untuk diperkenalkan dan diimplementasikan untuk mengejar peningkatan kebutuhan pangan nasional dengan harapan demi terwujudnya keamanan pangan Indonesia.

Produk pangan yang akan dihasilkan dari food astete ini antara lain padi, jagung, kedelai, tebu dan hasil peternakan sapi.

Program food estate telah berjalan di wilayah Kabupaten Merauke, Provisi Papua, dengan luas lahan yang dikembangkan sebesar 1,6 juta hektare dari 45.071 km kubik total luas wilayah Merauke.

Tahap awal program tersebut baru disiapkan 500 hektare, dimana sudah ada investor yang berminat pada program food estate di wilayah tersebut diantaranya, PT Medco (mengembangkan padi, jagung dan gula), PT Bangun Cipta (jagung), PT Wilmar (tebu), serta PT Industri Gula Nusantara. Selain investor lokal, sudah ada 36 investor asing yang berminat pada program food estate tersebut.

Mencermati latar belakang kebijakan ekonomi dan politik food estate di Indonesia serta konsekuensinya terhadap tatanan kehidupan masyarakat lokal dan pembangunan wilayah Kabupaten Merauke, Papua, menjadi tujuan seminar tersebut diselenggarakan dengan pembahasan alternatif pembangunan food estate yang dapat menjadi landasan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, berdaulat dan berkeadilan di Merauke.

Seminar berlangsung satu hari diikuti sekitar 200 peserta dari mahasiswa, dosen dan pemerhati lingkungan, membahas dan mengkaji sejauh apa manfaat dan kendala implementasi food estate bagi masyarakat setempat dan pangan Indonesia.

Kegiatan tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai aspek yang membahas program tersebut dari segala segi, diantaranya Dirjen Prasaranan dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian RI Sumarjo Gatot Irianto, Tokoh Adat Suku Marind, Johanes Glube Gebze, aktifis WWF Thomas Barano, Dekan FEM IPB, Yusmar Syaukat dan salah satu perwakilan dari dunia usaha Dirut PT Padi Energi Nusantra, Idih Ruskanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA