30 Januari 2011

PENGUSAHA DUNIA BELUM BEGITU KENAL BAIK INDONESIA

INDONESIA PLASA

Pengusaha Dunia Belum Kenal Baik Indonesia

Minggu, 30 Januari 2011 06:24 WIB

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tadi pagi misalnya saya bertemu dengan komunitas bisnis internasional, mereka mengatakan sepertinya Indonesia belum diketahui secara luas seperti India dan China. Persepsi, citra, berita dari Indonesia menurut mereka belum sepenuhnya diketahui dan ditangkap oleh masyarakat internasional

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Indonesia belum dikenal secara baik seperti halnya India dan China oleh para pengusaha Dunia.

Dalam konferensi pers di Hotel Radisson Blu Kompleks Bandara Internasional Zurich, Swiss, sebelum kembali ke tanah air pada Sabtu sore, Presiden mengatakan para pengusaha dunia yang ditemuinya selama menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos pada 27-28 Januari 2011 mengaku belum memiliki pengetahuan dan gambaran yang jelas tentang Indonesia.

"Tadi pagi misalnya saya bertemu dengan komunitas bisnis internasional, mereka mengatakan sepertinya Indonesia belum diketahui secara luas seperti India dan China. Persepsi, citra, berita dari Indonesia menurut mereka belum sepenuhnya diketahui dan ditangkap oleh masyarakat internasional," tuturnya.

Karena itu, Presiden mengatakan, kehadirannya di WEF juga digunakan sebagai kesempatan untuk menjelaskan kepada kalangan bisnis dunia tentang kondisi Indonesia.

Kepada para pengusaha dunia itu, Kepala Negara mengaku memberi penjelasan apa adanya tentang Indonesia seperti kemajuan yang telah dicapai di segala bidang beserta berbagai persoalan yang masih harus diselesaikan oleh pemerintah antara lain memperbaiki iklim usaha, memastikan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang harus terus menerus dilakukan.

"Jangan ditutup-tutupi, biar dunia tahu kita masih melakukan perbaikan. Sebagian hasilnya nyata, sebagian lagi masih diupayakan," ujarnya.

Menurut Presiden, para pengusaha dunia yang diberi penjelasan langsung tentang Indonesia oleh kepala negara menunjukkan minat untuk berinvestasi di Indonesia.

"Semakin mengetahui tentang Indonesia, semakin ingin mereka bekerja sama dan bermitra dengan kita. Apalagi mereka berasal dari negara-negara maju maka manfaatnya bisa kita dapatkan," katanya.

Presiden juga mengaku, banyak pengusaha yang mengatakan langsung kepadanya bahwa mereka sudah berinvestasi dan ingin menambah lagi investasinya dan yang belum nampaknya ingin datang ke Indonesia.

"Saya sambut itu kalau betul-betul bisa meningkatkan benefit untuk kita," tuturnya.

Para pengusaha dunia itu, menurut Presiden, saat ini sudah tahu bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah peringkat ketiga di Asia setelah China dan India dengan kapasitas ekonomi yang semakin besar dan kuat.

Presiden Yudhoyono mengatakan kehadirannya di forum WEF juga mengemban tanggung jawab moral sebagai Ketua ASEAN guna menjelaskan kepada dunia bahwa Indonesia dan kawasan Asia Tenggara juga berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Asia.

"Sebagai Ketua ASEAN saya punya kewajiban moral untuk kasih tahu dunia bahwa Indonesia dan ASEAN adalah kawasan yang bertumbuh dan patut bermitra dengan mereka," katanya.

Presiden Yudhoyono juga memanfaatkan kehadirannya di WEF untuk mengundang para pengusaha dunia menghadiri WEF Asia timur yang digelar di Indonesia pada Juli 2011.

Keberhasilan penyelenggaraan WEF Asia Timur di Jakarta nanti, menurut dia, akan membawa banyak manfaat bagi Indonesia untuk menambah jaringan kepada dunia usaha internasional agar peluang peningkatan investasi semakin terbuka.

Terinspirasi oleh penyelenggaraan WEF setiap tahun di Davos yang dipandang sebagai ajang bergengsi berkumpulnya para pengusaha dunia, Presiden pun mengutarakan idenya untuk menggelar forum serupa di Indonesia dalam bidang kebudayaan.

"Dengan demikian Indonesia akan berperan dalam jalinan kerja sama global. Ini pikiran saya mudah-mudahan bisa dimatangkan. Ini untuk kepentingan bangsa kita sendiri," demikian Presiden.

Zurich (ANTARA News) - Pemerintah terus memantau harga-harga komoditas pangan dalam beberapa bulan kedepan agar kenaikan harga tidak wajar yang bisa menyulitkan ekonomi masyarakat dapat segera diketahui.

Dalam konferensi pers di Hotel Radisson Blu kompleks Bandara Internasional Zurich sebelum kembali ke tanah air pada Sabtu sore, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa pemerintah juga ingin memastikan ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau terkait dengan lonjakan harga pangan di dunia yang telah mengakibatkan inflasi global.

"Pada tingkat regional kita ingin memastikan daerah-daerah kita yang memproduksi beras tidak gagal. Itu juga salah satu upaya dalam negeri bagaimana menghadapi kenaikan pangan ini terus terjadi. Program stabilisasi juga dilakukan, kita lihat nanti mana komoditas yang bulan-bulan ke depan kenaikannya tidak wajar," jelasnya.

Pemerintah, lanjut Presiden, juga telah menyiapkan beberapa kebijakan seperti inisiatif fiskal, operasi pasar, maupun melalui mekanisme ekspor dan impor apabila lonjakan harga pangan terus terjadi sehingga harga di tingkat masyarakat masih bisa terjangkau.

Apabila diperlukan, Presiden juga akan mengajak dunia usaha untuk membantu masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau bina lingkungan.

"Ada juga rencana kontigensi akhir manakala harga-harga memberatkan rakyat tentu akan saya pikirkan inisiatif dengan anggaran kita dan berjuang ke DPR apabila harga pangan sungguh memberatkan warga," katanya.

Presiden pun berharap secara global negara-negara di dunia dapat merumuskan kebijakan guna meredam lonjakan harga pangan agar negara pengekspor pangan tidak secara tiba-tiba menghentikan kegiatannya yang bisa mengancam ketahanan pangan negara lain.

Masalah kenaikan harga pangan dan ketersediaan pangan dunia menjadi salah satu sorotan dalam diskusi utama bertema redefinisi pembangunan berkelanjutan yang dibuka oleh pidato Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon dan dihadiri juga oleh Presiden Yudhoyono sebagai panelis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA