21 Oktober 2010

DIANSYAH SUKMANA: ''DENGAN WORD OF MOUTH,PRODUK TATIUS DAPAT DI BELI OLEH IBU PEJABAT

INDONESIA PLASA BY:Toni Samrianto.


Seperti sebagian besar anak muda lainnya yang lahir dan besar di keluarga pebisnis, Diansyah Sukmana juga mewarisi jiwa wirausaha orang tuanya. Sempat bekerja sekitar tiga tahun di bank swasta, akhirnya ia memutuskan untuk masuk holding keluarga dan bahkan memulai bisnis sendiri bersama saudaranya. “Saya sebenarnya kerja di holding keluarga. Tapi bersama saudara saya juga membuat bisnis sendiri. Istilahnya, ini adalah bisnis anak-anak dan holding keluarga itu adalah bisnis orang tua,” Diansyah menjelaskan.

Bisnis yang dirintis Diansyah bersama saudaranya, Rina Kartina, adalah Tatuis. Tatuis sendiri menjual mukena serta sajadah fashion. Bisnis ini sebenarnya dimulai sejak 2002. Namun, baru 2008 mulai dikembangkan secara lebih profesional. “Keuangan terpisah, manajemen juga terpisah, dan karyawan bertambah,” ujarnya. Dipilihnya bisnis mukena serta sajadah, diakui Diansyah karena pasarnya yang belum sebanyak baju muslim dan kerudung. “Kalau busana muslim pasarnya padat sekali, kita mengejar market spesifik. kita melihat perangkat solat masih belum banyak yang garap,” paparnya.

Dengan motto sebagai pionir mukena dan sajadah fashion, Tatuis memproduksi perlengkapan solat tersebut dengan gaya berbeda. “Supaya orang tidak bosan dengan yang sudah ada, kami desain dengan berbeda,” kata lulusan Monash University Australia ini. Produk Tatuis dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 50.000 – Rp 2 juta. Sebagai contoh, untuk kisaran harga Rp 2 juta digunakan bahan silk untuk mukena dengan bordiran banyak dan tebal serta dihiasi dengan benang emas.

Meskipun baru dua tahun ditekuni, konsumen yang pernah membeli barang-barang Tatuis ini tidak main-main. Petinggi negara seperti Hidayat Nurwahid dan Bambang Hendarso Danuri pernah membeli sajadah Tatuis sebagai souvenir bagi koleganya. “Bapak Hidayat Nurwahid memesan untuk acara perkawinan, sedangkan bapak Kapolri untuk hadiah lebaran tahun lalu,” ucap Diansyah. Menurutnya, hal tersebut cukup membanggakan bagi pengusaha start up seperti mereka karena berarti kualitas produknya tidak perlu diragukan lagi.

Diansyah sendiri berkontribusi untuk mengurus masalah-masalah internal seperti keuangan dan operasional. Sedangkan Rina bertugas untuk bagian produksi dan desain. “Untuk modal awal bisnis ini, susah dibilang karena dulu tidak ada pembukuan yang rapih. Jadi, terjadi begitu saja. Saya sendiri bantu modal untuk pengembangan,” imbuhnya. Omset rata-rata perbulan selama 2008-2009 berkisar berkisar Rp 20-30 juta. Dan, untuk saat ini omzetnya dapat mencapai Rp 50 juta. “Kalau saat peak season, seperti Lebaran, omset melonjak secara signifikan, dapat mencapai 100 juta,” ia mengungkapkan.

Urusan pemasaran, ia kerjakan bersama Rina. Diansyah mengatakan, salah satu strategi dalam memasarkan produk Tatuis adalah melalui word of mouth. Menurut dia, dengan word of mouth juga produk premium Tatuis dibeli oleh ibu-ibu pejabat sehingga membuka link mereka untuk mendapatkan konsumen sekelas petinggi negara. “Kami enggak ada toko, cenderung business to business. Agen kami di seluruh daerah, dan pembelian dilakukan secara online,” ujarnya. Ia menambahkan, saat ini mereka hanya memiliki satu outlet di Sarinah, Jakarta, dan bukan kepunyaan mereka sendiri.

Sosok muda, cerdas dan sukses dengan bisnis yang dirintisnya dari bawah tentunya tidak mudah diraih. Pria yang mendapatkan gelar sarjana dan master di negeri Kangguru ini mengungkapkan bahwa beberapa tips sukses untuk menjadi seorang entrepreneur, antara lain, berani mengambil keputusan dan siap mental untuk susah sebelum sukses. “Kami tidak langsung seperti orang-orang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis. Harus siap susah, biasanya setahun dua tahun cashflow susah,” tutur Diansyah. Setelah berani memiliki sikap seperti itu, baru kumpulkan modal untuk menanggulangi kesulitan cashflow yang mungkin terjadi.

Pabrik Tatuis sendiri berada di Cibinong, dan setiap enam bulan sekali memproduksi desain baru. “Seharusnya tiga bulan sekali, tapi kami baru bisa enam bulan sekali. Mudah-mudahan ke depan bisa setiap tiga bulan,” kata kelahiran 2 Januari 1979 ini. Salah satu kesulitan yang dihadapinya selama mengurus Tatuis adalah produk mereka yang belum dikenal, sehingga mendapatkan supplier yang di ujung. Oleh karena itu, ke depan Diansyah ingin sekali Tatuis bisa menyaingi nama-nama besar pemain perlengkapan solat dan busana muslim di tanah air. “Kenapa enggak kita nomor satu di perangkat shalat?” ujarnya.

Tak menutup kemungkinan juga mereka akan memproduksi perlengkapan solat maupun baju muslim lainnya seperti sarung, kopiah, maupun lainnya. “Tentu saja harus sesuai dengan fashion-nya untuk bisa tetap eksis,” tegasnya. Dengan tujuh pegawai dan sepuluh operator jahit yang saat ini bekerja di bawahnya, Diansyah yang saat ini masih aktif di holding keluarga ini juga berambisi untuk dapat memajukan anak buahnya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA