1 November 2010

KS: JUAL Rp 850, SIAPA YANG UNTUNG ?

INDONESIA PLASA
IPO Krakatau Steel

Senin, 1 November 2010 | 14:55 WIB

Rendahnya harga jual per lembar saham PT Krakatau Steel dalam penawaran saham perdananya (initial public offering/IPO) mengundang banyak pertanyaan, termasuk siapa yang kira-kira akan diuntungkan dengan harga murah tersebut?

"Yang diuntungkan ya saya kira orang-orang yang dekat dengan pengambil keputusan. Kami tengarai akan memborong saham ini," ungkap Ketua Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara di Gedung DPR RI, Senin (1/11/2010).

Menurutnya, pihak-pihak yang memborong itu akan kembali menjual saham-saham itu ketika penawaran sudah dibuka di pasar sekunder. Harga per lembar saham diperkirakannya akan naik sekitar dua kali lipat. Dengan demikian, para pemborong saham ini akan menuai keuntungan yang sangat besar.

"Ya ini kerugian negara, kita jual saham untuk dapat Rp 2,6 triliun, tapi seperlima saham pemerintah hilang. Kesempatan untuk mendapatkan seperlima dividen akan hilang. Nah, siapa orang-orangnya menjadi sulit dibuktikan," tambahnya kemudian.

Oleh karena itu, cara satu-satunya untuk membuktikan kebersihan proses IPO ini adalah mendesak Menteri BUMN Mustafa Abubakar untuk transparan mengenai para pembeli 20 persen saham perdana Krakatau Steel ini.

Sebelumnya, Mustafa Abubakar mengatakan, dari 20 persen saham yang akan dijual, sekitar 65 persennya akan dikhususkan kepada investor domestik, sisanya 35 persen. Namun, pembagian ini sering kali tidak transparan.

Pengamat pasar modal Adler Manurung mengatakan, pemerintah harus transparan terhadap para pembeli saham ini karena memang tak mungkin lagi menunda IPO yang sudah diumumkan atau mengubah harga yang sudah ditetapkan di angka Rp 850.

"Nah, menurut saya, 35 persen (jatah saham) untuk asing itu lebih baik dijual ke rakyat. Satu lot, satu lot saja. Biar asing itu beli di market, jangan di perdana, biar uangnya masuk ke kita," katanya.

Dalam keterangan persnya, Marwan mengatakan, pihaknya meragukan alokasi saham dilakukan secara obyektif dan transparan. Iress curiga bahwa pembelian akan didominasi oleh pemain-pemain politik.

"Kami curiga bahwa oknum-oknum di lingkaran kekuasaan pemburu rente dan penumpuk dana politiklah yang mendapat kesempatan membeli saham untuk kemudian dijual di pasar sekunder," ungkap mantan anggota DPD RI ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA