1 November 2010

BUKA DOKUMEN PT KRAKATAU STEEL

INDONESIA PLASA

Idealnya di Atas Rp 1.000

Selasa, 2 November 2010 | 07:41 WIB

Pekerja mengikat gulungan baja lembaran panas (hot rolled coil) yang baru keluar dari mesin produksi PT Krakatau Steel, di Cilegon, Banten, Jumat (27/6/2008).

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan diminta membuka dokumen pemesanan awal dari penjamin emisi. Dari dokumen itu akan diketahui berapa seharusnya harga ideal saham KS ditetapkan dan kepada pihak mana seharusnya saham KS dialokasikan.

Permintaan tersebut diungkapkan pengamat pasar modal Adler Manurung di Jakarta, Senin (1/11/2010). Dia ditanya soal kontroversi penetapan harga saham PT KS serta tidak transparannya investor institusi yang akan membeli saham perdana PT KS.

Adler mengatakan, harga saham perdana KS idealnya di atas Rp 1.000. Dengan harga
Rp 850 per saham, rasio harga terhadap laba KS (price earning ratio/PER) tahun 2010 hanya 9,5 kali. Padahal, PER industri sejenis saat ini telah 18-20 kali.

Oleh karena itu, lanjut Adler, tidak heran jika dalam seminggu terakhir ini harga saham perdana KS di antara ”pasar abu-abu” telah dibanderol Rp 1.000-Rp 1.100 per saham meskipun saham perdana KS baru akan ditawarkan kepada publik 2-4 November dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia 10 November 2010.

Perlu dibatalkan

Mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah, Marwan Batubara, mengatakan, rencana IPO KS perlu dibatalkan karena harga yang ditawarkan terlalu murah.

”Harga saham KS hanya ditawarkan Rp 850 per lembar, padahal harga sesuai nilai buku lebih dari Rp 1.500. Saat Indosat dijual ke Temasek dengan harga Rp 1.200 tiap lembar, saat itu negara dirugikan Rp 2 triliun karena harga sesuai nilai buku Rp 1.850. Apakah sekarang negara akan kembali dirugikan triliunan rupiah akibat penjualan KS,” tanya Marwan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jamsostek (Persero), Hotbonar Sinaga, menjelaskan, pihaknya semula menyiapkan Rp 250 miliar pada saat bookbuilding di harga Rp 850 per saham.

Namun, Jamsostek kemudian hanya mendapat jatah Rp 100 miliar karena saham KS mengalami kelebihan permintaan sampai sembilan kali. Jamsostek hanya menawar pada harga Rp 850 berdasarkan hitungan internal dan mempertimbangkan rentang harga yang ada.

Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi, Pandu Djajanto, mengatakan, alokasi saham perdana PT KS akan diaudit kantor akuntan publik independen. Oleh karena itu, penjamin pelaksana emisi akan mengalokasikan saham perdana KS seusai dengan mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA