16 November 2010

Pertumbuhan ekonomi 2011 akan lebih tinggi

INDONESIA PLASA
- Pertumbuhan ekonomi 2011 yang diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan 2010 akan diwarnai oleh sejumlah kerentanan. Menurut Direktur Biro Riset Infobank Eko B. Supriyanto, tahun depan inflasi masih akan menjadi bahaya laten. “Meski pertumbuhan ekonomi akan masih terus berlanjut,” katanya dalam Seminar Infobank Outlook 2011, di Graha Niaga, Jakarta Selasa (16/11)

Pada 2011, partumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 6,6 persen dengan skenario pesemistis sebesar 6,3 persen. Pertumbuhan ekonomi pada 2011 akan banyak disumbang oleh peningkatan investasi dan ekspor, sehingga tidak melulu bergantung pada sektor konsumsi.

Dalam kajiannya, Biro Riset Infobank mengungkapkan inflasi atau pemanasan perekonomian akan datang silih berganti. Pada Oktober 2010 laju inflasi sudah mengarah ke 5,6 persen dan diperkirakan hingga akhir 2010 inflasi akan berada +/- 5 persen.

Adapun pada 2011, inflasi diprediksi akan berkisar +/- 6 persen. Sumber inflasi lebih banyak berasal dari sisi penawaran karena kendala distribusi.

Dengan kondisi seperti itu, menurut Eko, ruang untuk penurunan suku bunga menjadi sempit. Dia memperkirakan hingga akhir tahun ini, BI rate masih berada di level 6,5 persen. Angka ini dinilai masih memberikan imbal hasil yang relatif tinggi dibandingkan negara-negara lain.

Namun, kata dia, jika tekanan inflasi terus merambat sesuai dengan yang diperkirakan yaitu +/- 6 persen, Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga dikisaran 6,5 sampai 7,25 persen. Hal ini kemungkinan mulai terjadi pada triwulan pertama 2011. Kondisi ini semakin tertekan, kata dia apabila terjadi kenaikan harga minyak yang tidak terkendali.

Selain itu, kajian Biro Riset Infobank juga mencatat pasar keuangan juga akan dibayangi oleh adanya pembalikan arus dana asing jangka pendek. Hal ini akan bisa memicu terjadinya penggelembungan asset dan bisa menekan nilai rupiah menjauh dari nilai fundamentalnya.

Potensi pembalikan arus modal asing ini relatif besar karena minimnya instrument pasar keuangan. Instrumen dalam pasar keuangan dalam negeri dinilai tidak sebanding dengan derasnya arus modal asing jangka pendek yang masuk saat ini. Akibatnya, sistem keuangan akan sangat rentan apabila ada pembalikan mendadak arus dana asing.

Padahal pasar modal sangat bergantung pada dana asing ini. Karena itu jika tidak ada perubahan di instrumen pasar uang, pembalikan arus dana akan terjadi lebih cepat, kendati hal itu diperkirakan tidak akan berlangsung lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA