20 Oktober 2010

BNI AKAN JARING 26 TRILIUN DARI NASABAH KAYA

INDONESIA PLASA BY:Toni Samrianto.

WEALTH MANAGEMENT

Rabu, 20 Oktober 2010 | 10:50 WIB

Ilustrasi
Boleh saja The Credit Suisse Research Institute menyatakan, rata-rata kekayaan orang Indonesia naik 27 persen. Tapi, hal tersebut belum tampak di bisnis wealth management Bank BNI yang boleh dibilang jalan di tempat.

Tengok saja, sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, Emerald Priority Banking atau simpanan BNI dengan saldo Rp 1 miliar ke atas, cuma berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 26 triliun. Jumlah nasabahnya pun masih sebanyak 8.000.

Menurut Pimpinan Divisi Wealth Management BNI Lynna Muliawan, jumlah ini relatif stabil jika dibandingkan dengan tahun lalu. Ia tak menjelaskan penyebab pertumbuhan wealth management ini datar-datar saja. "Yang penting tidak turun. Lagipula kami tetap on track. Kami lihat tahun depan pasti bertumbuh," tandas Lynna.

Ia menjelaskan, dari Rp 26 triliun itu, sebanyak Rp 23 triliun ditempatkan di tabungan, giro, dan deposito. "Deposito menempati posisi terbesar dibandingkan dua lainnya. Tapi, saya lupa angka persisnya," tutur Lynna.

Sedangkan Rp 3 triliun diletakkan di instrumen seperti obligasi, saham, dan reksadana. "Obligasi menempati posisi terbesar," terang Lynna.

Untuk meningkatkan loyalitas nasabah premiumnya itu, BNI banyak mengadakan customer gathering. Kemarin misalnya, BNI menggelar pertemuan untuk menjelaskan potensi investasi pada lukisan. "Memang, investasi pada lukisan tidak termasuk dalam portofolio kami, namun ada pasar yang menyukai lukisan dan kami mengenalkan kepada para nasabah wealth management bahwa lukisan itu bisa dijadikan alat investasi," jelas Lynna.

Pertumbuhan bisnis wealth management di tanah air memang tumbuh tipis, rata-rata cuma 10 persen - 15 persen per tahun. Maklum, orang tajir di Indonesia lebih loyal pada institusi asing.

Sebut saja Bank DBS Indonesia. Total nasabah wealth management DBSI saat ini berjumlah 35.000. Pangsa pasar bank ini mencapai 2 persen dari total bisnis pengelolaan kekayaan di Indonesia

Budiyanto Winata, Head of Wealth Management DBS Indonesia, menjelaskan, produk wealth management yang paling digemari nasabah DBS adalah produk investasi.
Porsinya adalah 70 persen produk keuangan lokal dan 30 persen produk keuangan asing. Produk lokal yang paling diburu adalah reksadana terproteksi, dengan total dana kelolaan sekitar Rp 1,3 triliun

Tapi juga ada bank lokal yang berjaya. Sebut saja Bank Mandiri. Hingga September 2010 volume investasi nasabah Mandiri di produk ini sekitar Rp 93 triliun. Angka tersebut tumbuh 10 persen dibandingkan periode yang sama di September 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA