20 Oktober 2010

CUACA, PENGARUHI PRODUKSI GARAM TANAH AIR

INDONESIA PLASA BY:Toni Samrianto.

Bahan baku garam terpaksa diimpor dari Australia

, Rembang – Akibat cuaca buruk dan tidak menentu, kini petani garam di Kabupaten Rembang, Jawa Tinggi enggan memproduksi garam krosok. Petani lebih memilih bertani ikan atau udang ketimbang mengolah garam

Sanyoto, petani garam asal Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori mengatakan, kini petani garam di daerahnya banyak menyulap lahannya menjadi tambak ikan banding atau udang. “Agar keluarga dapat makan. Sebab cuaca buruk yang sering berakibat turun hujan, lahan tidak dapat dibuat garam,” kata Sanyoto kepada Tempo, Rabo (20/10).

Petani ini mengaku, tambak satu hektar miliknya, ia tebari 3.000 benih ikan bandeng dan 15 ribu benih udang windu. “Hasilnya juga lebih menguntungkan,” katanya.

Akibat petani garam beralih menjadi petani ikan ini, harga garam krosok dari petani melonjak tinggi, yakni mencapai Rp 1.200-1.400 per kg.

Langka dan mahalnya harga garam krosok ini membuat pengusaha gram konsumsi kelabakan. “Garam produksi lokal maupun garam Madura sudah sulit diperoleh,” kata H. Pupon, Perusahaan Garam UD Apel Merah, Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, (20/10).

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, kata Pupon, dia terpaksa harus impor garam dari Australia sebanyak 100 ton. Untuk mendapatkan garam Australia juga susah karena melalui berbagai aturan. Harganya pun juga tinggi, berkisar Rp 800- Rp 900 per kg.

Menurut data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Rembang, lahan tambak garam sekarang mencapai 1.184,98 hektare. Pada kondisi normal, produksi garam berkisar 150 ribu ton per tahun.

“Sekitar 30 persennya, diserap pasar lokal, dan sisanya pasar luar kota, ” ucap Waluyo, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Rembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA