13 November 2010

Mata Uang BI: Dampak Perang Kurs Masih Teratasi

INDONESIA PLASA
Jumat, 12 November 2010 | 17:23 WIB
Darmin Nasution.

Penguatan rupiah terhadap dollar AS yang masih dalam batas normal dibanding dengan negara-negara berkembang lainnya membuat Indonesia belum terlalu merasakan dampak dari perang mata uang yang terjadi saat ini.


Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Palu, Jumat (12/11/2010), mengatakan bahwa ada dua hal yang dilakukan dalam menghadapi situasi perang mata uang, yakni menjaga penguatan rupiah tidak terlalu cepat dan mempersiapkan langkah antisipasi jika terjadi arus balik modal asing.

Menurut Darmin, masa pemulihan ekonom negara-negara berkembang yang lebih cepat dibanding negara-negara maju, pemicu terjadinya perang mata uanng.

Tingkat suku bunga di negara-negara berkembang yang lebih tinggi mengakibatkan terjadinya pelarian modal dari negara-negara maju.

Aliran modal ini kemudian membuat nilai tukar mata uang negara-negara berkembang menguat, tetapi di pihak lain menimbulkan kekhawatiran negara-negara maju. Sebab, melemahkan daya saing mereka dalam perdagangan, terutama ekspor.

"Akibatnya, mereka (negara maju) mulai menjaga diri dengan melakukan intervensi dan kebijakan-kebijakan yang aneh-aneh yang justru memperburuk situasi perekonomian global," katanya.

Lebih lanjut, Darmin mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sejak Januari hanya menguat 5,5 persen, masih lebih rendah dibanding penguatan mata uang Malaysia dan Thailand sebesar 11 persen, serta Jepang 14 persen. "Artinya, penguatan rupiah tersebut masih cukup aman bagi Indonesia," ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, bank sentral akan memupuk cadangan devisa yang lebih banyak yang dapat digunakan setiap saat jika terjadi pelarian modal asing-asing secara tiba-tiba. "Kedua strategi ini yang tengah dilakukan saat ini dalam menghadapi situasi perang mata uang," tambahnya.

Darmin menilai solusi terbaik keluar dari situasi perang mata uang ini adalah membangun konsesus internasional, tetapi ia pesimistis hal itu dapat tercapai dalam waktu dekat ini.

Darmin berada di Palu, Sulawesi Tengah, untuk melantik Rahmat Hernowo sebagai Pemimpin BI Palu menggantikan Soeparmo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA