13 November 2010

Connect Now Perempuan Suka Nonton TV atau Membaca?

INDONESIA PLASA
Jumat, 12 November 2010 | 09:42 WIB

Oleh Hermawan Kartajaya (Founder & CEO, MarkPlus, Inc)
Bersama Nastiti Tri Winasis (Chief Operations, MarkPlus Insight)

Beberapa waktu yang lalu, di Gedung Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, terpasang poster besar begambar foto Tantowi Yahya, yang mencoba mensosialisasikan kegiatan membaca kepada para perempuan, khususnya ibu-ibu. Di dekat foto Tantowi Yahya, ada kalimat yang berbunyi: “Ibu adalah perpustakaan utama keluarga”. Senang rasanya jika isi kalimat yang terkandung dalam poster tersebut menggambarkan kejadian nyata di Indonesia. Benarkah fenomena yang terjadi di masyarakat kita memang demikian adanya?

Perempuan khususnya yang sudah menikah dan mempunyai anak diakui merupakan saluran yang efektif untuk kegiatan sosialisasi membaca di antara anak-anaknya. Seorang ibu memegang peranan penting dalam pendidikan anak-anaknya, menjadi sumber ilmu bagi anak-anak, oleh karena itu seorang ibu diharapkan harus banyak-banyak membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membaca buku. Namun sayang, masih banyak di antara para ibu yang beranggapan bahwa kegiatan membaca adalah kegiatan yang kurang mengasyikkan bila dibanding kegiatan lain seperti nonton TV, ngobrol atau kegiatan yang bersifat hiburan lainnya. Selain itu, berbagai kendala yang dihadapi oleh para ibu misalnya keterbatasan waktu seringkali dijadikan sebagai satu alasan untuk tidak melakukan kegiatan membaca.

Dari sebanyak 1.301 perempuan yang diriset MarkPlus Insight pada pertengahan 2010, terlihat bahwa sebanyak lebih dari 90 persen perempuan baik di hari kerja mapun hari libur menyempatkan diri menonton TV. Bahkan aktivitas menonton TV menjadi prioritas pertama dibanding mengakses media lainnya. Dari total media yang diakses perempuan, 74,9 persen mengakses TV dengan alasan untuk mencari hiburan dan informasi. Kemudahan akses, lebih ekonomis dan faktor variasi program yang ditayangkan turut menjadi faktor yang mempengaruhi. Sementara, kegiatan membaca koran hanya dilakukan oleh sebanyak 13,8 persen perempuan yang disurvey sebagai sarana untuk mencari informasi (karena keanekaragaman informasi yang ditawarkan).

Di Indonesia, budaya membaca sepertinya sudah menurun bahkan lebih ekstrim lagi mulai ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat, terutama kalangan perempuan. Data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun yang lalu bahkan menunjukkan bahwa penduduk Indonesia usia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11 persen sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 persen, buku cerita 44,28 persen, dan yang membaca buku pengetahuan lainnya hanya 21,07 persen.

Mengapa membaca dianggap begitu membebani, khususnya bagi perempuan? Berbagai macam alasan dikemukakan, mulai dari keterbatasan waktu yang tersedia hingga adanya anggapan yang sebagian besar datang dari perempuan menikah dan mempunyai anak (baca: ibu-ibu). Mereka beralasan bahwa ”..... daripada membaca lebih baik nonton televisi, karena membaca hanya membuat kepala jadi pusing dan tidak menghasilkan duit...”. Ada lagi yang beralasan bahwa ”...kalau membaca butuh konsentrasi dan tidak bisa dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sedang nonton TV kita ngga perlu konsentrasi penuh, bisa dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga”.

Ketika perempuan duduk di depan pesawat TV, mereka biasanya bisa sambil ngobrol tentang banyak hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Hal ini sedikit berbeda dengan laki-laki, di mana jika ada laki-laki di sana, biasanya si perempuan akan disuruh diam. Kebanyakan laki-laki tidak bisa ngobrol dan nonton TV secara bersamaan, tetapi harus satu-satu.
Membaca merupakan hal yang sangat membosankan dan melelahkan, sedangkan menonton televisi dinilai lebih menyenangkan karena tayangan yang ditampilkan bermacam-macam dan tentu saja hal tersebut jauh lebih menarik dibandingkan membaca berlembar-lembar halaman koran, buku, atau majalah yang memusingkan.

Di kota-kota besar, ada kecenderungan televisi telah menjadi salah satu bagian penting dalam keluarga. Tak jarang kegiatan lain pun dilakukan seraya menonton televisi. Bahkan, bisa jadi saat menonton televisi merupakan satu-satunya saat yang menyatukan anggota keluarga, karena tingginya tingkat aktivitas masing-masing anggota keluarga. Bahkan, ada keluarga yang memiliki kebiasaan menghabiskan waktunya untuk menonton televisi lebih banyak daripada aktivitas lain yang dilakukan di rumah. Sebagian ahli berpendapat, alasan utama menjadikan televisi sebagai pusat aktivitas di rumah, adalah karena kurangnya ketersediaan alternatif kegiatan lainnya.

Ternyata, tayangan audiovisual yang ditawarkan oleh TV dirancang untuk menarik perhatian dengan pergantian gambar yang cepat dalam hitungan detik. Pendaran cahaya warna-warni, suara yang datang dari berbagai arah dan sumber secara berbarengan juga membuat tayangan ini begitu memikat khususnya bagi para perempuan. Hal ini tidak bisa didapatkan dari kegiatan membaca.

Dalam “Teaching Reading in Today’s Elementary School “, Paul Burns, Betty Doe dan Elinor Ross mengatakan bahwa “....Membaca merupakan sebuah proses yang kompleks yang melibatkan delapan aspek yang bekerja secara bersamaan, adapun kedelapan aspek itu adalah “aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman berpikir, belajar, asosiasi dan afeksi....”. Pada saat membaca sesungguhnya kita tidak hanya mengasah ketajaman pikiran tapi juga bisa mengembangkan kemampuan intelektual sekaligus bisa meningkatkan kecakapan mental. Membaca itu membutuhkan sebuah minat, yaitu keinginan yang kuat untuk melakukannya dengan senang hati tanpa paksaan. Tanpa minat, niscaya kegiatan membaca menjadi sesuatu yang membosankan.

Minat baca rendah, ketersediaan forum komunikasi membaca di antara perempuan relatif sedikit, merasa sayang untuk belanja buku, malas rekreasi ke toko buku (kecuali mencari buku untuk anak), jarang memberi hadiah buku ke orang lain, dana dan keterbatasan waktu menjadi alasan malas membaca, motivasi update pengetahuan rendah, perempuan yang bercita-cita menjadi penulis relatif tidak banyak, bahkan hanya sedikit perempuan yang mengidolakan figur sukses yang gemar membaca.

Perempuan sadar, bahwa TV merupakan media yang ideal untuk mendapatkan informasi mengenai produk terkini. Living with social pressure-lah yang menyebabkan perempuan terekspose tayangan TV yang mengajarkan perempuan untuk living the way society wants it, not the way we want (need) it. Identitas seorang perempuan kemudian bukan lagi apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka, tetapi menjadi apa yang didiktekan oleh televisi.

TV menyiarkan A, besoknya perempuan ikut-ikutan A. TV mendengungkan B, perempuan merasa malu kalau tidak ikut B. Namun demikian, meski terpengaruh oleh fenomena tersebut, reaksi perempuan umumnya biasa-biasa saja. Bahkan, TV tidak bisa begitu saja dilenyapkan dalam kehidupan mereka. Yang ada hanyalah bisa menyikapi secara bijak mengenai tayangan mana yang mesti diikuti, dan mana yang tidak.

----------
Artikel ini ditulis berdasarkan analisa hasil riset sindikasi terhadap hampir 1300 responden perempuan di 8 kota besar di Indonesia, SES A-D, Usia 16-50 tahun, yang dilakukan bulan Mei - Juni 2010 oleh MarkPlus Insight berkerjasama dengan Komunitas Marketeers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA