13 November 2010

Kunjungan Obama Perdagangan AS-RI Tak Cerminkan Potensi

INDONESIA PLASA
Presiden Barack Obama (kedua dari kiri) berbicara dengan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) pada acara makan malam kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Selasa 9 November 2010.

Nilai perdagangan antara Amerika Serikat dan Indonesia tidak merefleksikan potensi ekonomi yang seharusnya. Dengan demikian, masih ada ruang bagi kedua negara untuk meningkatkan volume perdagangannya.

"Dari konteks ekonomi, saya melihat ada semangat yang tinggi di Amerika Serikat, untuk meningkatkan kerjasama ekonomi. Kami katakan bahwa 21 miliar dollar AS volume perdagangan kita saat ini, tidak merefleksikan potensi kedua negara. Artinya kita harus meningkatkan, dengan tetap menjaga neraca perdagangannya. Sudah ada usaha ke arah sana," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Rabu (10/11/2010).

Menurut Hatta, kedatangan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama ke Indonesia dalam dua hari ini tidak dalam konteks untuk menandatangani perjanjian bisnis apapun. Ini berbeda dengan kedatangan rombongan Presiden Austria Heins Fischer yang membawa 50 pelaku usaha dan menandatangani tiga nota kesepahaman bisnis.

"Kedatangan Obama kan tidak dalam konteks untuk menandatangani sesuatu. Tetapi memberikan suatu komitmen dan semangat bahwa kedua negara ingin meningkatkan komitmen di banyak area," katanya.

Indonesia dan Amerika Serikat sepakat meningkatkan nilai perdagangan kedua negara sehingga diharapkan akan meningkat dari posisi saat ini 20 miliar dollar AS menjadi 35 miliar dollar AS lebih per tahun. Jika itu tercapai, nilai perdagangan kedua negara dapat melampaui nilai perdagangan antara Malaysia dengan Amerika Serikat, yang saat ini saja sudah mencapai 35 miliar dollar AS per tahun.

"Ada keinginan yang besar untuk meningkatkan investasi dan perdagangan antar negara. Sekarang, kita (Indonesia-Amerika) baru mencapai 20 miliar dollar AS, sehingga masih besar sekali ruang untuk meningkatkan perdagangan antara dua negara, namun kedua negara harus bekerja keras. Sementara ini, dari 20 miliar dollar AS itu, Indonesia masih positif neraca (perdagangannya)," ujar Hatta.

Menurut Hatta, untuk meningkatkan nilai perdagangan dan investasi kedua negara, Amerika berusaha meningkatkan penanaman modalnya di berbagai sektor, selain sektor-sektor yang sudah dimasuki lebih dahulu, yakni minyak, gas, dan mineral. Indonesia juga mengharapkan penanaman modal Amerika juga diarahkan pada sektor lain, terutama pertanian, energi ramah lingkungan, dan energi terbarukan.

Indonesia menginginkan ada transfer teknologi dari Amerika Serikat. Selain itu juga ada kerjasama konkrit pada pengembangan energi terbarukan. Dalam kaitan perubahan iklim juga kita bicarakan masalah teknologi pertanian.

Sebelumnya, investasi beberapa perusahaan asal Amerika Serikat sudah tercatat di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), antara lain General Electric dan Caterpillar. Dengan masuknya investasi perusahaan Amerika tersebut, total nilai investasi yang masuk diperkirakan akan melampaui target yang diharapkan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INDONESIA PLASA